RESUME PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN
“RESUME PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN”
OLEH:
LOIS KUSUMAWATI SETIAWAN
ANDI BERLIANA
A.
Pengertian
Kemandirian
Istilah
“Kemandirian” berasal dari kata dasar “diri” yang mendapat awalan ‘ke” dan
akhiran “an”. Kemudian membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Maka
pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari pembahasaan tentang
perkembangan diri itu sendiri, dalam konsep Carls Rogers disebut dengan istilah
self, karena diri itu merupakan inti dari kemandirian. Konsep yang
sering digunakan atau berdekatan dengan kemandirian adalah autonomy.
Menurut
Chaplin (2002), otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih,
untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya
sendiri. Sedangkan Seifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan
otonomi atau kemandirian sebagai “the ability to govern and regulate one’s own
thoughts, feeling, and actions freely and responssibly while overcoming feeling
of shamw and doubt”.
Erikson
(dalam monks, dkk, (1989), menyatakan kemandirian adalah usaha untuk melepaskan
diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses
identitas ego, yaitu : merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap
dan berdiri sendiri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung
pengertian :
a)
Kondisi
dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya
sendiri.
b)
Mampu
mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
c)
Memiliki kepercayaan dan melaksanakan
tugas-tugasnya.
d)
Bertanggung
jawab atas apa yang dilakukannya.
- Bentuk-bentuk, Tingkatan dan karakteristik kemandirian peserta didik
Bentuk-bentuk kemandirian Robert Hovighurts (1972)
membedakan kemandirian menjadi 4 bagian sebagai berikut :
1). Kemandirian emosi : Kemampuan mengontrol emosi
sendiri dan
tidak
tergantungnya kebutuhan emosi pada orang lain.
2). Kemandirian ekonomi : Kemampuan mengatur ekonomi
sendiri dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orng lain.
3). Kemandirian intelektual : Kemampuan untuk mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi.
4). Kemandirian sosial : Kemampuan untuk mengadakan
interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung pada aksi orang lain.
Sementara itu, Steiberg
(1993) membedaka karakteristik kemandirian atas tiga bentuk yaitu :
The first
emotional autonomy-that aspect of independence related to change in the
individual’s close relationship, especially with parent, the second behavioral
autonomy-the capacity to make independent decisions and follow through with them.
The third char acterization invoves an aspect of independence reffered to as
value autonomy-wich is more than simply being able to resist pressures to go
along with the demands of other; it means having a set a principles about right
and wrong, about what is importaint and what is not.
Kutipan diatas menunjukan karakteristikdari ketiga
aspek kemandirian yaitu :
5). Kemandirian emosional
: Yakni aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan
emosional anatar idividu.
6). Kemandirian tingkah
laku : Ykni suatu kemampuan untuk membuat keputusan tanpa tergantung pada
orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab.
7). Kemandirian nilai : Yakni
kemampuan memakai seperangkat printis tentang benar dan salah , yang penting
dan tidak penting.
C.
Tingkatan
dan karakteristik kemandirian
Lovinger ( dalam sunaryo
kartadinata, 1988), mengemukakan tingkatan kemandirian dan karakteristik,
yaitu:
1). Tingkat pertama,
adalah tingkat imvulsive dan melindungi diri. Ciri-cirinya:
a. Peduli terhadap control dan keuntungan yang dapat
diperoleh dari interaksinya dengan orang lain.
b. Mengikuti aturan secara spontanistik dan hedonistic
c. Berpikir tidak logis dan tertegun pada cara berpikir
tertentu (stereotype)
d. Cenderung melihat kehidupan sebagai zero-sum games
e. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain serta
lingkungannya.
2). Tingkat kedua,
adalah tingkat konformistik, cirri-cirinya:
a. Peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan social
b. Cenderung berpikir stereotype dan klise
c. Peduli akan konformitas terhadap aturan eksternal
d. Bertindak dengan motif yang dangkal untuk memperoleh
pujian
e. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi dan kurangnya
introspeksi
f. Perbedaan kelompok didasarkan atas cirri-ciri eksternal
g. Takut tidak diterima kelompok
h. Tidak sensitif terhadap keindividualan
i. Merasa berdosa jika melanggar aturan
3). Tingkat ketiga,
adalah tingkat sadar diri, ciri-cirinya:
a. Mampu berfikir alternatif
b. Melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi
c. Peduli untuk mengambil manfaat dari kesmpatan yang ada
d. Menekankan pada pentingnya memecahkan masalah
e. Memikirkan cara hidup
f. Penyesuaian terhadap situasi dan peranan
4). Tingkat keempat,
adalah tingkat saksama (conscientious). Ciri-cirinya:
a. Bertindak atas dasar nilai-nilai internal
b. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku
tindakan
c. Mampu melihat keragaman emosi, motif dan perspektif diri
sendiri maupun orang lain
d. Sadar akan tanggung jawab
e. Mampu melakukan kritik dan penilaian diri
f. Peduli akan hubungan mutualistik
g. Memiliki tujuan jangka panjang
h. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks social
i. Berpikir lebih konpleks dan atas dasar pola analisis
5). Tingkat kelima,
adalah tingkat individualitas, ciri-cirinya:
a. Peningkatan kesadaran individualitas
b. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dan
ketergantungan
c. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang
lain
d. Mengenal eksistensi perbedaan individual
e. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam
kehidupan
f. Membedakan kehidupan internal dengan kehidupan luar
dirinya
g. Mengenal kompleksitas diri
h. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah social
6). Tingkat keenam,
adalah tingkat mandiri. Ciri-cirinya:
a. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan
b. Cenderung bersikap realistic dan objektif terhadap diri
sendiri dan orang lain
c. Peduli terhadap pemahaman abstrak, seperti keadilan
social
d. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan
e. Toleran terhadap ambiguitas
f. Peduli akan pemenuhan diri (self-fulfilment)
g. Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal
h. Responsif terhadap kamandirian orang lain
i. Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain
j. Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan
keceriaan
D.
Urgensi
dan Implikasi Perkembangan Kemandirian Peserta Didik Bagi Pendidikan
1. Urgensi perkembangan kemandirian peserta didik
Pengaruh kompleksitas kehidupan
terhadap peserta didik terlihat dari berbagai fenomena yang sangat membutuhkan
perhatian dunia pendidikan. Sunaryo kartadinata (1988) menyebutkan beberapa
gejala yang berhubungan dengan permasalahan kemandirian yang perlu mendapat
perhatian dunia pendidikan, yaitu:
a.
Ketergantungan
disiplin kepada kontrol luar dan bukan karena niat sendiri yang ikhlas
b.
Sikap tidak peduli terhadap lingkungan hidup
c.
Sikap
hidup konformistis tanpa pemahaman dan konformistik dengan mengorbankan prinsip
2. Implikasi perkembangan kemandirian peserta didik
Kemandirian adalah kecakapan yang
berkembang sepanjang rentang kehidupan individu yang sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor pengalaman dan pendidikan. Upaya-upaya yang dilakukan disekolah
untuk pengembangan kemandirian peserta didik, yaitu:
a)
Mengembangkan
proses mengajar yang demokratis, yang memungkinkan anak merasa dihargai
b)
Mendorong
anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan dalam berbagai
kegiatan sekolah
c)
Member
kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan mendorong rasa ingin tahu
mereka
d)
Penerimaan
positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak membeda-bedakan anak
yang satu dengan yang lain
e)
Menjalin
hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak
E.
Mengoptimalkan
Kecerdasan Peserta Didik
Tidak ada
anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah
satu atau beberapa jenis kecerdasan. Cara yang baik untuk mengenali kecerdasan
yang paling berkembang pada diri anak adalah dengan mengamati cara mereka
memanfaatkan waktu luang. Mereka bebas memilih kegiatan yang disukainya.
Kecerdasan pada usia 4 tahun mencapai 50 %, usia 8 tahun 80 % dan pada 18 tahun
mencapai 100 %, jadi pendidikan diusai dini sangat penting untuk membantu
mengembangkan kecerdasan anak. Gardner menggunakan kata kecerdasan sebagai
ganti bakat. Menurutnya, kecerdasan dapat diidentifikasi menjadi 9 kecerdasan
yaitu: kecerdasan logis matematis, kecerdasan linguistik-verbal, kecerdasan
spasial-visual, kecerdasan musikal, kecerdasan kinetis-ragawi, kecerdasan
naturalis, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan
eksistensial. Sembilan kecerdasan ini sering dikerucutkan menjadi IQ
(Intelegence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient).
a.
IQ
(Intelegence Quotient)
IQ hanyalah
mengukur sebagian kecil dari kecakapan. IQ juga bukan ukuran yang menentukan
kesuksesan. Anak yang cerdas adalah anak yang bereaksi secara logis dan berguna
terhadap apa yang dialami di lingkungannya. IQ merupakan angka yang dipakai
untuk menggambarkan kapasitas berpikir seseorang dibandingkan dengan rata-rata
orang lain. Msalnya: Beethoven composer terkenal yang memiliki kemampuan luar
biasa di bidang musical, namun memiliki keterbatasan pada kemampuan matematika
dan bahasa, ini berarti jika IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat
kreativitas yang rendah tapi IQ yang tinggi belum tentu diikuti kreativitas
yang tinggi. Semua orang memiliki kecerdasan, tetapi tidak ada orang yang sama
walau kembar sekalipun dan ini terjadi berkat pengaruh genetik dan lingkungan
yang berbeda pada setiap orang.
b.
EQ
(Emotional Quotient)
Kecerdasan emotional dapat dilatih pada anak sejak dini.
Pencetus EQ adalah Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelegence. Salah
satu pelajaran emosi yang paling mendasar bagi anak adalah bagaimana membedakan
perasaannya. Kecerdasan IQ harus diiringi dengan kecerdasan EQ. Dalam berbagai
penelitian dalam bidang psikologi bahwa anak yang memiliki EQ tinggi adalah
anak-anak yang bahagia, percaya diri, popular, dan lebih sukses. Adapun cara
meningkatkan kecerdasan EQ anak adalah:
·
Mengajarkan
cara berpikir realitas dan optimis.
·
Membuat
kartu emosi.
·
Orang tua hendaknya mendengarkan curahan hati anak.
·
Orang
tua hendaknya membacakan dongeng atau buku bersama.
·
Bermain peran atau drama
·
Melibatkan
anak dengan kegiatan olahraga atau organisasi.
·
Banyak
memberikan pujian dan motivasi kepada anak.
c.
SQ
(Spritual Quotient)
SQ
(Spritual Quotient) adalah kemampuan untuk memimpin diri, mengetahui tujuan
hidup dan mengatasi frustasi dan depresi, SQ membuat seseorang bersikap tidak
egois dan meimiliki empati kepada orang lain. Belum ada penelitian yang
terperinci mengenai SQ ini, akan tetapi SQ berhubungan dengan agama anak. SQ
anak akan berkembang jika orang tua mampu dan bisa menerapkan fungsi keagamaan
yang baik pada diri anak, kemudian di lanjutkan dengan lingkungan baik di
rumah, sekolah, maupun lingkungan masjid. Hasil penelitian dari Prof. Dr.
Daniel Colleman, “bapak manajemen” dari AS menunjukkan bahwa keberhasilan
seseorang hanya 20% dipengaruhi oleh IQ, selebihnya 80 % dipengaruhi oleh
Emotional Quotient (EQ) dan Spritual Quotient (SQ).
Di
Indonesia, ada dua orang yang berjasa besar dalam mengembangkan dan
mempopulerkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual yaitu K. H. Abdullah
Gymnastiar atau dikenal AA Gym, da’i kondang dari Pesantren Daarut Tauhid –
Bandung dengan Manajemen Qalbu-nya dan Ary Ginanjar, pengusaha muda yang banyak
bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Emotional
Spritual Quotient (ESQ)-nya. Dari pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan
satu model pelatihan ESQ yang telah memiliki hak patent tersendiri. Konsep
pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang:
1.
Zero
Mind Process; yakni suatu usaha untuk menjernihkan kembali pemikiran menuju God
Spot (fitrah), kembali kepada hati dan fikiran yang bersifat merdeka dan bebas
dari belenggu.
2.
Mental
Building; yaitu usaha untuk menciptakan format berfikir dan emosi berdasarkan
kesadaran diri (self awareness), serta sesuai dengan hati nurani dengan merujuk
pada Rukun Iman.
3.
Mission
Statrment, Character Building, dan Self Controlling; yaitu usaha untuk
menghasilkan ketangguhan pribadi (perssonal strength) dengan merujuk pada Rukun
Iman.
4.
Strategic
Collaboration; usaha untuk melakukan aliansi atau sinergi dengan orang lain
atau dengan lingkungan sosialnya untuk mewujudkan tanggung jawab sosial
individu.
5.
Total
Action; yaitu suatu usah untuk membangun ketangguhan sosial (Ari Ginanjar,
2001).

Komentar
Posting Komentar